Minggu, 23 Desember 2012

Kekesalan Abang Kumis

Disebutlah di Indonesia sudah menjamur namanya bisnis online yang menguntungkan. Begitu juga  yang dialami oleh "Abang Kumis" ini. Ini adalah cerita nyata yang dialami "Abang Kumis" dalam mengurusi bisnis online nya ini.

 (foto ini hanya ilustrasi, bukan menggambarkan "Abang Kumis" yg asli )

Suatu malam ketika "Abang Kumis" membuat laporan tentang bisnisnya, beliau pun datang ke sebuah warung internet untuk mengerjakannya. Beliau adalah langganan setia saya karena setiap mengurusi laporan selalu mampir ke tempat saya.

Setelah laporannya selesai diketik, maka "Abang Kumis" meminta tolong kepada "operator warnet" untuk mencetak file nya. Disodorkanlah sebuah flash disk kepada "Abang Kumis" untuk menyimpan datanya yang akan dicetak. Mengingat usia "Abang Kumis" sudah tua, maka daya tangkap mengoperasikan komputer semakin turun alias gaptek. Maklum lah, orang tua memang kurang begitu paham bagaimana cara menyimpan data ke dalam flashdisk, kecuali bagi mereka yang sudah bisa.

Beberapa menit berselang, si "Abang Kumis" mendatangi "operator warnet" nya untuk mengajari bagaimana cara menyimpan data ke dalam flashdisk yang benar. Menurut penuturan "Abang Kumis" tadi, beliau tidak dibantu bagaimana cara menyimpan laporannya, justru malah dibentak-bentak oleh "operator warnet" nya.
"Uaseemmm...disuruh menyimpankan data saya ke flashdisk saja malah dibentak-bentak, memang kamu pikir kamu itu siapa? Saya kan customer, seharusnya kamu lebih telaten." gumam "Abang Kumis" dalam hati.

Sesaat kemudian, data "Abang Kumis" berhasil disimpankan oleh "operator warnet" ke dalam flash disk dan sesegara untuk dicetak.

Habisnya kurang lebih sekitar 2000 untuk cetaknya dan internet kurang lebih 1000 / 2000. Maklum lah, bukan waktu jam saya jaga. Jadi, saya hanya bisa memperkirakan harganya sekitar itu. Memang biasanya ya sekitar itu.

Kekesalan "Abang Kumis" itu tak langsung berhenti sampai di sini saja. Beliau masih mengumpat di dalam hati atas kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Ia menyadari kalau dirinya sudah sepuh dan tidak bisa bagaimana cara menyimpan laporan yang sudah dia buat, maka dari itu beliau meminta bantuan. Eee...bukan ngajarin yang baik-baik, malah dibentak-bentak. Lantas sebelum ia keluar dari warung internet tadi, ia mengadukan apa yang sudah diperbuat oleh "operator warnet" itu kepada tukang parkir. Beliau mengira bahwa tukang parkir itu adalah bos warnet.

"Pak, siapa yang jaga warnet itu Pak? Kok, ngomongnya ngebentak-bentak saya. Tidak menghargai saya. Kalau begini caranya, sebagai orang tua saya merasa tidak dihargai. Saya ini kan pelanggan dia Pak, seharusnya kan dia membantu saya dengan baik." begini kira-kira percakapan antara "Abang Kumis" dengan tukang parkir. Karena si tukang parkir bukan bos warnet itu, ya dia hanya bisa diam saja. Takut kalau ngomong sedikit salah.

Keesokan harinya....

"Abang Kumis" kembali mengendarai motor mio nya ke warnet lagi. Dan saya pas kebagian jaga di siang hari sekitar pukul 11.00 WIB. Seperti biasa, "Abang Kumis" juga mencetak data laporannya lagi, dan meminta tolong kepada saya.Ya, saya langsung menyimpankan datanya. Memang si "Abang Kumis" ini langganan saya ketika saya pulang malam. Dan selalu pas saya kebagian jaganya. Jadi, lebih akrab dengan si "Abang Kumis"

Tiba-tiba setelah data "Abang Kumis"sudah saya cetak dan sudah dimatikan komputernya, lantas beliau bertanya pada saya,
 "Mbak, yang jaga malam itu siapa? Yang pake bahasa Jawa itu lho Mbak?" kata "Abang Kumis"
"Yang mana  ya Pak, yang tinggi atau yang putih?" jawab saya
"Yang ngoplos waktunya Mbak itu lho.. Pengen tahu rumahnya di mana?" kata beliau lagi
"Oo... Mas C ya Pak? Wah, saya kurang tahu rumahnya, Pak." jawab saya
"Iya Mas C yang pake bahasa Jawa itu lho, Mbak. Kalau saya tahu rumahnya, saya akan datangi rumahnya dan menjotosnya." kata beliau dengan nada kesal.
"?????????? menjotos?" gumam saya dalam hati. Saya mengira kalau Bapak ini menanyakan rumah Mas C, karena Bapak ini kenalannya. Ee...ternyata malah mau adu jotos
"Habis saya kesel Mbak sama mas itu. Saya mintai tolong nge-print kan data saya, e malah dibentak-bentak, Mbak. Kan, saya orang tua ya Mbak, wajar kalau saya tidak bisa caranya. Makanya minta bantuan. E..malah bentak-bentak nggak sopan. Beda sama anak-anak sekolah sekarang yang sudah canggih-canggih jadi nggak perlu bantuan lagi. Lha kalau saya??" ceritanya dengan kesal.
"Wah, kalau rumah Mas C itu saya tidak tahu Pak. Dia itu kan rekan bos saya. Jadi saya kurang paham dengan rumahnya." jawab saya.
"Kesel Mbak saya dibentak-bentak. Beda dengan Mbak yang telaten." imbuhnya.

Saya hanya bisa mendengar curahan hati "Abang Kumis" tadi. Antara percaya dan tidak percaya. Kok bisa sampai kayak gini mau jotos segala. Dan sudah 3 orang yang mengadukan tentang Mas C sama saya. Saya hanya buruh biasa yang hanya bisa diam, takut kalau bicara sedikit keliru. Biarlah waktu yang menunjukkan lah. Saya serahkan sama Gusti Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar